Implementasi Istilah DUIT Dalam Kehidupan



Implementasi Istilah DUIT Dalam Kehidupan -
DUIT – Do’a, Usaha, Ikhtiar & Tawakal

Konsep bekerja sedianya dapat dilandasi oleh prinsip “DUIT”. Empat prinsip ini diharapkan dapat menjadi modal dasar kita dalam memperoleh kenikmatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Prinsip D – Do’a

Dalam sehari kita diajarkan untuk berdoa minimal 5 waktu. Setiap niat, ucapan dan gerakan dalam shalat menganut unsur do’a, karena justeru dalam shalatnya kekhusuan komunikasi dengan Sang Maha Pencipta Allah SWT dapat dilangsungkan dengan sebaik-baiknya komunikasi. Inna shalati, wanusuki, mawahyaya, wamamati lillahirobbil ‘alaamiin (Sesungguhnya shalat kita, ibadah kita, hidup kita dan mati kita hanya milik Allah Tuhan seru sekalian alam). Dan, janganlah pernah kita bosan meminta dan bermunajat kepada Allah, karena hanya Allah yang patut disembah dan hanya kepada Allah kita meminta pertolongan. Selain itu, Allah telah berjanji dalam firman-Nya yang mengatakan bahwa Allah akan menjamin setiap permohonan dan munajat yang dilakukan hamba-Nya yang ditujukan atau dimintakan kepada Allah SWT dengan bersungguh-sungguh dan sebaik-baiknya permohonan.


Prinsip U – Usaha
Allah SWT telah menjatah dan membagi secara proporsional dan adil tentang setiap urusan hamba-hamba-Nya. Nah, di dalam setiap urusan itu, ada yang namanya pekerjaan sesuai bidangnya, seperti penelitian, pendidikan, pengabdian, perikanan, pertanian, PNS, swasta dan sebagainya. Urusan ini wajib hukum di-maintain secara baik agar dapat menjadi berkah, rahmat dan nikmat bagi kita semua.


Prinsip I – Ikhtiar
Prinsip ketiga adalah “I”, yaitu IKHTIAR. Setiap urusan yang diamanatkan Allah SWT untuk dijalankan oleh kita sebagai HAMBA-NYA yang DHOIF tentu memerlukan upaya yang optimal dengan harapan bahwa output yang dihasilkan akibat adanya proses IKHTIAR terhadap USAHA yang dijalankan dapat memberikan sebesar-besarnya manfaat, termasuk untuk kita sendiri.


Prinsip T -Tawakal

Dalam hal ini, terdapat unsur ikhlas yang mewarnai sifat tawakal, yaitu bagaimana sesungguhnya kita harus bersyukur atas segenap nikmat yang diberikan, baik nikmat sehat, iman, islam maupun nikmat materi yang telah diberikan. QS. Ibrahim ayat (7) menyatakan bahwa barangsiapa bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah, maka niscaya Allah akan menambah nikmat tersebut dan barangsiapa “kufur” atau tidak mensyukuri nikmat, maka sesungguhnya ADZAB ALLAH itu sangat pedih. Selain syukur, maka sabar juga menjadi salah satu yang harus dimiliki untuk mencapai tatanan ikhlas dalam konteks tawakal ini. Karena justeru SABAR adalah penolong yang paling mujarab bagi kita untuk tidak terjerumus ke dalam kekufuran (tidak bersyukur) dan kekafiran (aral atau keputusasaan). Allah SWT berfirman : ista’inu bishshobri washshalat (jadikan sabar dan shalat sebagai penolong kamu).

Komentar

  1. Manfaat banget nih :))
    comment back ya http://farhad-si-its.blogspot.com/ butuh banget aku, buat penilaian tugas kuliah, kalo bisa setiap postingannya di komen ya :)) THANKS!! salam

    BalasHapus

Posting Komentar