Idealisme, Optimisme, dan Realistis Manusia

Idealisme, Optimisme, dan Realistis Manusia - Masih ingatkah temen-temen semua masa anak-anak kita, ketika orang tua, paman, bibi, eyang atau siapapun yang lebih dewasa dari kita mengajukan pertanyaan sederhana kepada kita “Kalo besar nanti mau jadi apa!?” mungkin beberapa dari kita akan menjawab dengan polos ada yang ingin jadi dokter, polisi, astronot, guru, insinyur, tentara, koki, atau mungkin juga artis. Jawaban yang terkesan sederhana, namun sebetulnya menunjukkan kejujuran. katanya anak kecil itu paling jujur dan sebuah idealisme yang paling lugu dan lucu. Nah, seiring perjalanan waktu, apakah kini idealisme masa anak-anak itu masih kita pertahankan hingga kini?
Selepas masa putih abu-abu ini, kita akan merasakan bahwa inilah waktunya dan jalannya untuk mencapai dan mefokuskan diri pada pencapaian masa depan kita. Banyak yang sudah merancang dan merencanakan berbagai hal. Lalu apakah rencana dan rancangan kita itu sesuai dengan idealisme masa TK kita? atau masa SD kita? atau masa SMP kita, lalu bagaima dengan masa SMA ini? Apakah yang dulu ingin menjadi dokter, seusai SMA ini akan melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran? Apakah yang dulu bercita-cita menjadi polisi, akan langsung memutuskan untuk mendaftarkan diri di Akademi Kepolisian? Yang dulunya punya bayangan ingin menjadi insinyur, apakah serta merta menjatuhkan pilihan pada fakultas teknik? Tentu tidak semudah dan sesederhana itu.
Dewasa ini kita tentu punya banyak refrensi dan wawasan juga masukan untuk gambaran masa depan kita. Jadi sangat mungkin yang dulunya ingin jadi begini sekarang ingin jadi begitu. Apalagi kini prosedur pendaftaran ke PTN atau PTS memungkinkan kita bisa bebas memilih program studi yang ingin kita ambil, baik yang sesuai disiplin ilmu kita atau bukan. Ratusan prodi di puluhan perguruan tinggi negeri dan ribuan perguruan tinggi swasta jelas akan menambah kegalauan kita.  Banyak yang jadi pertimbangan kita dalam memilih prodi yang kita inginkan. Tentu dengan tujuan kita dapat diterima pada perguruan tinggi favorit kita dengan meminimalisir resiko terburuk.
Kuota penerimaan mahasiswa, jumlah peminat, passing grade perguruan tinggi dan jurusan, mata kuliah di jurusan tersebut, biaya pendidikan juga prospek kerja kedepannya menjadi bahan perbincangan yang amat biasa dikalangan pelajar di masa akhir putih abu-abu. Karena sebenarnya disinilah kita memutakhirkan pilihan kita untuk masa depan kita, bukan saat masa anak-anak yang hanya tahu dari apa yang mereka lihat saja, bukan pula saat sekolah dasar yang menentukan cita-cita hanya dari ‘kepingin’. Bukan pula saat SMP. Tentu tidak ada larangan orang berangan-angan, kapan saja waktunya boleh, namun saat ini lah kita akan menunjukkan sebuah idealisme sejati bukan idealisme buta dan ‘pokoknya’. Karena kita tentu sudah melihat realitas yang ada, dinamika masyarakat, kebutuhan masyarakat dan tuntutan masa depan. Kita tidak bisa menafikkan diri bahwa kita harus jadi orang kaya, banyak uang, hidup layak bersama keluarga dan punya masa tua bahagia bersama anak-anak dan cucu-cucu dan tidak perlu lagi berkerja ngoyo memenuhi biaya hidup.
Atau ketika seiring perjalan waktu itu ada batu ganjalan yang tidak bisa kita hindari. Misalnya, kita ingin masuk ke Fakultas Kedokteran, namun nilai sains kita pas-pasan dan banyak orang yang punya nilai lebih di pilihan yang sama. Ingin masuk fakultas teknik tapi fisika dan matematika kita lemah, padahal ada puluhan (bahkan ratusan) ribu pelajar di Indonesia yang berebut kursi di fakultas teknik. Sekali lagi kita harus pinter dan peka melihat realitas yang ada. Jangan sampai kita gagal masuk hanya karena salah pilih.
Tapi dari semua itu ada hal yang tak boleh hilang, yaitu optimisme. Apapun keadaannya kita tak boleh kehilangan satu suplemen semangat yang namanya optimisme. Jika sudah kehilangan unsur ini, semuanya akan terkesan menakutkan dan mengkhawatirkan. Optimisme jadi penyeimbang antara idealism hidup dan realitas yang ada. Seorang guru kami mengatakan bahwa pilihan satu didasarkan pada idelismemu, pilihan kedua harus relalistis. Maka boleh saya menambahkan optimisme ada di antara keduanya. Idealism nomor satu, optimism sudah pasti, tapi realistis juga penting.

Komentar

  1. @Wawinrezkif, tetap semangat !! kejar impianmu dengan ACTION !!!! Berusahalah terus sampai kamu dapatkan apa yg kamu impikan selama ini....dan jangan lupa juga untuk berdoa kepada Tuhanmu... :-)

    BalasHapus
  2. @Wawinrezkif, TETAP SEMANGAT !!! kejarlah impianmu :-)

    BalasHapus
  3. smangat kawan....!! salam sukses

    BalasHapus

Posting Komentar