Hidup Adalah Tanggung Jawab
Hidup Adalah Tanggung Jawab - Pada suatu
hari tampak seorang pemuda berdiri termangu di tepi sebuah jembatan dengan
sungai yang air deras di bawahnya. Sesekali matanya menerawang jauh, menarik
nafas panjang, dan wajahnya menunjukkan dia sedang frustasi dan putus asa.
Si pemuda berkata sendiri,
“Semua kenikmatan dunia telah aku cicipi. Aku kaya raya, pernah bepergian ke tempat-tempat terindah di seluruh dunia dan menikmati semua makanan-makanan lezat serta kenikmatan yang dapat dibeli dengan uang. Saat ini aku sungguh sangat tida bahagia. Anak kesayanganku meninggal dunia, istriku pun pergi meninggalkan aku. Lalu untuk apa aku hidup di dunia ini?
Biarpun aku memiliki harta dan kekayaan, tetapi hatiku kosong dan menderita.” Setelah itu si pemuda tampak bersiap-siap menceburkan diri kedalam sungai, bunuh diri.
The Cup of Wisdom
Si pemuda berkata sendiri,
“Semua kenikmatan dunia telah aku cicipi. Aku kaya raya, pernah bepergian ke tempat-tempat terindah di seluruh dunia dan menikmati semua makanan-makanan lezat serta kenikmatan yang dapat dibeli dengan uang. Saat ini aku sungguh sangat tida bahagia. Anak kesayanganku meninggal dunia, istriku pun pergi meninggalkan aku. Lalu untuk apa aku hidup di dunia ini?
Biarpun aku memiliki harta dan kekayaan, tetapi hatiku kosong dan menderita.” Setelah itu si pemuda tampak bersiap-siap menceburkan diri kedalam sungai, bunuh diri.
Pada saat
bersamaan seorang pengemis berpakaian kumul menghampiri dia. “Tuan yang baik,
tolong beri saya sedikit uang, untuk makan. Saya doakan semoga Tuan selalu
sehat dan berumur panjang.”
Mendengar
permintaan pengemis itu, si pemuda segera mengeluarkan dompet dari sakunya. Ia
mengambil semua uang yang ada dan memberikannya kepada si pengemis sambil
berkata, “Ambillah semua uang ini.”
“Semua ini?”
si pengemis tidak percaya. “Iya, ambillah semua. Karena ditempat yang kutuju
aku tidak lagi memerlukannya, “jawab si pemuda sambil megalihkan pandangan
kembali ke arah sungai di bawah jembatan. si pengemis rupanya merasakan sikapa
pemuda yang agak janggal. Sambil memegang dan memegangi uang itu sejenak,
kemudian cepat-cepat mengembalikannya sambil berkata, “Tidak ah , tidak jadi. Aku memang seorang
pengemis, tetapi aku bukan seorang pengecut dan aku tidak akan mengmbil uang
dari orang pengecut. Ini, bawalah uang ini bersamamu ke sungai itu.” Selamat
tinggal Tuan pengecut !”
Mendengar
ucapan si pengemis pemuda itu terpana kaget. Perasaan puas dan bahagia sejenak
yang dirasakan Karena bisa memberi uang kepada pengemis, lenyap seketika. Dia
sangat ingin si pengemis menerima pemberiannya, apalagi di saat Ia akan
mengakhiri hidupnya, tetapi itupun tidak bisa.
Tiba-tiba si
pemuda itu sadar, ternyata dengan member kepada orang lain, telah membuat
dirinya merasa bahagia. Ini sebuah perasaan dan pengetahuan baru bagi pemuda
itu. Kemudian dia memandang kembali kea rah sungai itu sekali lagi, lantas
berpaling dan berjalan pergi mengejar si pengemis. Dia ingin mengucapkan terima
kasih dan member tahu bahwa dia tidak akan menjadi seorang pengecut. Dia
berjanji di dalam dirinya, bahwa dia akan kembali berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan
dengan member kepada orang lain yang membutuhkan.
The Cup of Wisdom
Begitu
mengenaskan mendengar orang mengakhiri hidupnya dengan jalan pintas. terasa
mengenaskan lagi kalau kita mendengar orang bunuh diri hanya karena masalah
sepele. Keberanian harus diletakkan dalam
porsi yang benar. Selayaknya kaya mental yang tertanam adalah “berani
hidup”, bukan “berani mati”.
Kita
melakuka itu semua karena sebuah alas an yakni hidup adalah tanggung jawab!
Laksana seorang pejuang, apapun medan pertempuran di depan yang akan kita hadapi, kita punya kewajiban untuk menyelesaikannya. Kita punya tanggung jawab untuk menjalaninya. Apapun hasil nantinya, nilai kenikmatan sejati sebenarnya terletak pada perjuangan itu sendiri. Apalagi hasil perjuangan itu bermakna pula bagi ornag lain.
Laksana seorang pejuang, apapun medan pertempuran di depan yang akan kita hadapi, kita punya kewajiban untuk menyelesaikannya. Kita punya tanggung jawab untuk menjalaninya. Apapun hasil nantinya, nilai kenikmatan sejati sebenarnya terletak pada perjuangan itu sendiri. Apalagi hasil perjuangan itu bermakna pula bagi ornag lain.
Karena itu,
hidup akan jauh lebih bermakna jika kita bisa member sesuatu kepada orang lain.
Itulah salah satu bentuk tanggung jawab kita sebagai manusia. Dan jika ini kita
sadari sepenuhnya dan kita perjuangkan dengan tekat kuat dan dilandasi
ketulusan hati, maka kesuksesan yang kita raih akan jauh lebih berarti. Dengan
begitu saat mengahadapi tantangan, mental kita akan semakin terlatih dan siap
mengahadapi dengan penuh keberanian. Mari jauhkan diri kita dari sikap berani
mati secara pengecut, tetapi kita harus berani hidup secara kesatria, maka
hidup akan jauh lebih bernilai.
Salam
sukses, luar biasa!

terima kasih atas infonya. ..
BalasHapussemoga artkel berikutnya bisa lebih bagus lagi....
salam,,,
terima kasih kembali.... iya kami akan salalu berusaha agar postingan kami selalu berkualitas..
Hapusbegitu menginspirasi certanya :(
BalasHapusiya... terima kasih atas pujiannnya... sering-sringlah berkunjung ke blog ini/.///
BalasHapustulisan anda ini sangat inspiratif.. lanjutkan!! :D
BalasHapus